Minggu, 06 Juli 2014

Museum Manusia Purba Sangiran

SRAGEN - 14 juni 2014, Saya mengunjungi museum Sangiran di Sragen. Untuk masuk ke situs Sangiran ini hanya membutuhkan biaya Rp.10.000,00/ orang. Sangiran memiliki luas mencapai 56 km² yang terletak di desa Krikilan kecamatan Kalijambe kabupaten Sragen Jawa Tengah. Apabila anda ingin ke Sangiran melewati Jalan Solo Purwodadi, anda bisa lurus ke utara sampai anda menemukan baliho Sangiran kemudian ikuti petunjuk arah tersebut. Sejarah Sangiran bermula dari kegiatan penelitian yang dilakukan oleh Von koweningswald sekitar Tahun 1930-an. Di dalam kegiatannya beliau dibantu oleh Toto Marsono (Kades Krikilan). Daerah Sangiran memang sudah lama dikenal sebagai penghasil fosil hewan purba, yang oleh masyarakat setempat dianggap sebagai tulang- tulang manusia raksasa ( Balung Buto) yang mati karena berperang di daerah. Sejak sekitar tahun 1860, maestro seni lukis modern Indonesia Raden Saleh kadang berkunjung di daerah ini untuk memenuhi hobinya mengumpulkan fosil yang kemudian ia tunjukkan ke teman – temannya orang Eropa. Karena itulah sangiran dikenal oleh beberapa ahli dari Eropa. Hingga kini situs Sangiran telah menghasilkan setidaknya 70 individu manusia fosil, yang merupakan lebih dari 75% temuan fosil sejenis di dunia.  Kawasan Sangiran ditetapkan sebagai daerah cagar budaya pada tahun 1997 melalui menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan tujuan untuk melestarikan dan melindungi situs Sangiran. Untuk meningkatkan status situs Sangiran di mata dunia, maka pada tanggal 25 Juni 1995 situs Sangiran telah dinominasikan ke UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia dan dicatat dalam “Word Heritago List” No 593 dengan nama “Sangiran Early Man Site”.  Sejak tahun dulu museum Sangiran sudah tidak terawat lagi . Hingga museum Sangiran ini di renovasi dan diresmikan pada 15 Desember 2011 oleh Muhammad.Nuh (Menteri Pendidikan). Museum Sangiran saat ini memiliki 3 Ruang Pameran. Zona museum dibagi menjadi 3 ruang arena pamer. Arena pamer pertama adalah “kekayaan sangiran atau wealth of sangiran”. Pada arena display ini, berisi fosil-fosil yang ditemukan di situs sangiran. Sebagian besar fosil dipajang pada area ini, baik dalam bentuk dioprama maupun foto-foto dan grafis pendukung. Fosil Homo Erectus, alat-alat bantu untuk kehidupan manusia. Arena pamer kedua adalah “langkah-langkah kemanusiaan atau step of humanity”. Ruang pamer disini berisi dokumentasi visual teori “big bang”, terbentuknya alam semesta, hingga pembabakan zaman dan makhluk hidup yang tinggal di masa masa tersebut. Proses sebuah makhluk hidup ketika menjadi fosil, juga dapat dilihat di sini. Proses evolusi manusia juga digambarkan secara lengkap. Teori ini menjelaskan bagaimana makhluk hidup berubah dari generasi ke generasi. Ruang pamer ketiga berisi masa keemasan Homo Erectus yang berkisar 500ribu tahun yang lalu. Diruang ini hanya terdapat 2 diorama besar, yang menggambarkan kehidupan manusia Homo Erectus dimasa keemasannya itu yang menarik juga, ada sebuah papan bertuliskan tangan dari Ganjar Pranowo ( Gubernur Jateng saat ini) “ditempat ini, ada banyak misteri kehidupan. Semua orang bisa berlomba-lomba menguji rahasia Tuhan. Adakah yang mampu membuka tabir itu ? adakah kakek-nenekku disini ?”. Situs sangiran merupakan tempat untuk melakukan perjalanan kembali kemasa lampau. Banyak hal yang bisa dipelajari di situs ini, antara lain tentang kehidupan di masa lalu dan tentang misteri evolusi makhluk hidup. Pengetahuan seperti ini perlu disebarluaskan kepada para generasi penerus supaya warisan dunia ini bisa dilestarikan. Selain bangunan museum, disekitarnya terdapat banyak pedagang yang menjual berbagai macam souvenir seperti baju, asesoris, cindera mata, dan lain-lain.