SRAGEN - 14 juni 2014, Saya mengunjungi
museum Sangiran di Sragen. Untuk masuk ke situs Sangiran ini hanya membutuhkan
biaya Rp.10.000,00/ orang. Sangiran memiliki luas mencapai 56 km² yang terletak
di desa Krikilan kecamatan Kalijambe kabupaten Sragen Jawa Tengah. Apabila anda
ingin ke Sangiran melewati Jalan Solo Purwodadi, anda bisa lurus ke utara
sampai anda menemukan baliho Sangiran kemudian ikuti petunjuk arah tersebut.
Sejarah Sangiran bermula dari kegiatan penelitian yang dilakukan oleh Von koweningswald
sekitar Tahun 1930-an. Di dalam kegiatannya beliau dibantu oleh Toto Marsono
(Kades Krikilan). Daerah Sangiran memang sudah lama dikenal sebagai penghasil
fosil hewan purba, yang oleh masyarakat setempat dianggap sebagai tulang-
tulang manusia raksasa ( Balung Buto) yang mati karena berperang di daerah.
Sejak sekitar tahun 1860, maestro seni lukis modern Indonesia Raden Saleh
kadang berkunjung di daerah ini untuk memenuhi hobinya mengumpulkan fosil yang
kemudian ia tunjukkan ke teman – temannya orang Eropa. Karena itulah sangiran
dikenal oleh beberapa ahli dari Eropa. Hingga kini situs Sangiran telah
menghasilkan setidaknya 70 individu manusia fosil, yang merupakan lebih dari
75% temuan fosil sejenis di dunia.
Kawasan Sangiran ditetapkan sebagai daerah cagar budaya pada tahun 1997
melalui menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan tujuan untuk melestarikan dan
melindungi situs Sangiran. Untuk meningkatkan status situs Sangiran di mata
dunia, maka pada tanggal 25 Juni 1995 situs Sangiran telah dinominasikan ke
UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia dan dicatat dalam “Word Heritago
List” No 593 dengan nama “Sangiran Early Man Site”. Sejak tahun dulu museum Sangiran sudah tidak
terawat lagi . Hingga museum Sangiran ini di renovasi dan diresmikan pada 15
Desember 2011 oleh Muhammad.Nuh (Menteri Pendidikan). Museum Sangiran saat ini
memiliki 3 Ruang Pameran. Zona museum dibagi menjadi 3 ruang arena pamer. Arena
pamer pertama adalah “kekayaan sangiran atau wealth of sangiran”. Pada arena
display ini, berisi fosil-fosil yang ditemukan di situs sangiran. Sebagian
besar fosil dipajang pada area ini, baik dalam bentuk dioprama maupun foto-foto
dan grafis pendukung. Fosil Homo Erectus, alat-alat bantu untuk kehidupan
manusia. Arena pamer kedua adalah “langkah-langkah kemanusiaan atau step of
humanity”. Ruang pamer disini berisi dokumentasi visual teori “big bang”,
terbentuknya alam semesta, hingga pembabakan zaman dan makhluk hidup yang
tinggal di masa masa tersebut. Proses sebuah makhluk hidup ketika menjadi
fosil, juga dapat dilihat di sini. Proses evolusi manusia juga digambarkan
secara lengkap. Teori ini menjelaskan bagaimana makhluk hidup berubah dari
generasi ke generasi. Ruang pamer ketiga berisi masa keemasan Homo Erectus yang
berkisar 500ribu tahun yang lalu. Diruang ini hanya terdapat 2 diorama besar,
yang menggambarkan kehidupan manusia Homo Erectus dimasa keemasannya itu yang
menarik juga, ada sebuah papan bertuliskan tangan dari Ganjar Pranowo (
Gubernur Jateng saat ini) “ditempat ini, ada banyak misteri kehidupan. Semua
orang bisa berlomba-lomba menguji rahasia Tuhan. Adakah yang mampu membuka
tabir itu ? adakah kakek-nenekku disini ?”. Situs sangiran merupakan tempat
untuk melakukan perjalanan kembali kemasa lampau. Banyak hal yang bisa dipelajari
di situs ini, antara lain tentang kehidupan di masa lalu dan tentang misteri
evolusi makhluk hidup. Pengetahuan seperti ini perlu disebarluaskan kepada para
generasi penerus supaya warisan dunia ini bisa dilestarikan. Selain bangunan
museum, disekitarnya terdapat banyak pedagang yang menjual berbagai macam
souvenir seperti baju, asesoris, cindera mata, dan lain-lain.
